Peringatan Keamanan
 Jakarta, BSSN.go.id – Pada era digital yang penuh ketidakpastian, kesiapsiagaan menghadapi serangan siber bukan lagi sebuah opsi, melainkan keharusan. Seiring meningkatnya ancaman seperti ransomware, kebocoran data, dan serangan lainnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun ketahanan siber nasional yang kuat dan responsif.  Pandangan strategis tersebut disampaikan oleh Direktur Operasi Keamanan Siber BSSN Andi Yusuf, M.T. saat menjadi panelis dalam kegiatan diskusi panel bertema “Incident Response and Disaster Recovery Planning: Preparing for Cyber Attacks” pada event Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2025 di JHCC, Senayan, Jakarta, pada Kamis (7/8/2025).  
Selain itu, Andi menekankan urgensi implementasi regulasi seperti Peraturan BSSN Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Insiden Siber dan Peraturan BSSN Nomor 2 Tahun 2024 tentang Manajemen Krisis Siber, sebagai fondasi kebijakan yang harus dijalankan oleh seluruh pemangku kepentingan.

Andi mengapresiasi diskusi ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, sektor privat, akademis dan komunitas siber dalam mendorong peningkatan kapabilitas nasional dalam merespons insiden. 

Ia juga menegaskan, melalui forum ini pentingnya pendekatan yang berbasis simulasi, latihan berkala, serta pelaporan insiden yang transparan dan tepat waktu sesuai regulasi.

“Keterlibatan semua pihak dalam forum ini adalah bentuk kolaborasi aktif dan kontribusi nyata dalam membangun sistem tanggap insiden yang adaptif, kolaboratif, dan berlandaskan regulasi yang kuat,” ujarnya. 

Kembali ke Artikel