Di era digital yang saling terhubung ini, ancaman siber tidak mengenal batas institusi, sektor, atau wilayah. Untuk itu dibutuhkan sinergi dan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan serta komitmen bersama untuk terus menyelaraskan langkah upaya dan mengedepankan koordinasi lintas sektor dalam membangun ekosistem siber yang tangguh dan tepercaya.
Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Strategi dan Kebijakan Keamanan Siber dan Sandi, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, Marsda TNI R. Tjahjo Khurniawan, S.T., M.Si. saat memberikan Welcome Remarks di acara Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2025, JHCC, Senayan, Jakarta (7/8/2025).
Dalam misi Presiden RI, yaitu Asta Cita, khususnya pada Asta Cita kedua, Tjahjo mengatakan salah satu fokus utama pemerintah adalah meningkatkan konektivitas dan keamanan teknologi informasi dari ancaman siber.
“Hal itu telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029,” ujarnya.
Komitmen dan Asta Cita Presiden tersebut, Tjahjo menyampaikan sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045 yang didukung oleh Visi Indonesia Digital 2045 yang ditopang oleh tiga pilar, yaitu Pemerintahan Digital, Ekonomi Digital, dan Masyarakat Digital.
Visi tersebut dapat dicapai dengan pemanfaatan teknologi terkini dan masa depan seperti AI, IoT, Blockchain, dan quantum computing serta pengembangan ekosistem. Di mana salah satunya yaitu tentang keamanan dan data.
“Berkaitan dengan itu, penguatan keamanan siber menjadi salah satu fokus perhatian utama untuk memastikan terwujudnya visi dan terbentuknya ekosistem digital yang aman dan kuat,” jelasnya.